Dialog Kebangsaan “Merajut Tali Kerukunan Umat Beragama, Merangkul Perdamaian Dunia”

Pada tanggal 20 Februari 2020, Konsulat Jenderal RI Hamburg bekerjasama dengan lndonesia lslamic Centrum e.V (IIC) Hamburg telah mengadakan kegiatan Dialog Kebangsaan dengan mengusung tema “Merajut Tali Kerukunan Umat Beragama, Merangkul Perdamaian Dunia“, bertempat di aula KJRI Hamburg.

Pertemuan dihadiri oleh sekitar 80 peserta yang terdiri dari ormas dan masyarakat di wilayah kerja KJRI Hamburg, diantaranya lndonesia ls/amic Centrum Hamburg, Perhimpunan Pelajar lndonesia (PPI Hamburg), perkumpulan pelaut lndonesia, serta masyarakat dan diaspora lndonesia. Dialog ini menghadirkan narasumber tunggal Imam Shamsi Ali selaku Imam Masjid Agung New York dan Presiden dari Nusantara Foundation serta dimoderatori oleh tokoh masyarakat lndonesia di Bremen, Dr.-ing Maemun Fauzi, MSC.

Kegiatan dibuka oleh Konsul Jenderal RI. Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI menyampaikan bahwa dialog kebangsaan ini merupakan sarana baik guna mempererat silaturahmi dan persahabatan antar umat beragama. Narasumber merupakan salah satu diaspora lndonesia yang dihormati dan diakui peranannya dalam memperkuat persatuan antar umat beragama. Lebih lanjut, Konsul Jenderal RI menyampaikan bahwa keberagaman merupakan suatu berkat yang merupakan kelebihan seluruh bangsa lndonesia. Namun demikian, keberagaman jika tidak dibina dengan baik dapat juga menjadi faktor yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk itu, Konsul Jenderal RI menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat lndonesia di wilayah kerja KJRI Hamburg untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dan bukan sebagai kelemahan mengingat pesatnya kemajuan teknologi dapat berdampak juga pada pesatnya penyebaran hoax sehingga berpotensi merusak tatanan kehidupan dalam masyarakat majemuk lndonesia.

Imam Shamsi Ali membuka dialog dengan memberikan sedikit gambaran mengenai perjalanan hidupnya dari seorang murid pesantren, mengajar di Arab Saudi hingga saat ini tinggal dan akan membangun sebuah Pesantren di New York. Hal menarik yang menjadi pelajaran dari pengalaman hidupnya adalah keberagaman itu adalah kekuatan umat beragama yang dapat dijadikan alat pemersatu.

New York yang merupakan kota paling beragam di dunia justru mengajarkan yang bersangkutan bahwa semua umat beragama dan bangsa dapat hidup berdampingan sepanjang memiliki rasa toleransi tinggi dengan mengerti batas dan tidak melakukan intervensi kepada umat dan bangsa lainnya.

Bagi yang bersangkutan, semua agama pada dasarnya mengajarkan dan mengamalkan kebaikan sehingga seluruh manusia secara hakikatnya memiliki common ground yaitu keinginan untuk hidup damai dan tenang tanpa adanya rasa tekanan/ketakutan, dari umat dan bangsa lain. Dalam kaitan ini, tentunya apabila seluruh manusia mengedepankan common ground ini maka potensi konflik sangat dapat diminimalisir.

Berkaca kepada situasi di lndonesia paska pemilihan presiden, narasumber meminta seluruh pihak untuk melakukan instropeksi diri dan menghilangkan rasa permusuhan antara pihak yang berseberangan. Dari pengalamannya berkunjung ke berbagai belahan dunia, sebagai orang lndonesia, yang bersangkutan menerima banyak pujian atas kemajemukan lndonesia sebagai bangsa dan rumah bagi umat beragama.

Penting bagi seluruh umat beragama untuk membangun dialog antar umat sehingga dapat saling mengenal dan bekerjasama. Komunikasi yang baik menjadi kunci bagi terciptanya perdamaian dan persatuan sehingga konflik antar umat dapat dihindari dan diantisipasi. Hai tersebut terbukti sangat bermanfaat di Amerika Serikat khususnya di kota New York paska kejadian 9/11.

Yang bersangkutan juga menyampaikan bahwa lndonesia menjadi contoh baik dalam penguatan nilai keberpihakan pada perempuan. Sebagai contoh nyata, dapat dilihat di kawasan Eropa Timur umumnya Kedutaan Besar RI dikepalai oleh Duta Besar perempuan. Fenomena ini tentunya sangat jarang terjadi di era sebelum reformasi.

Untuk menutup kegiatan, narasumber menyatakan bahwa seluruh orang yang hadir dalam diskusi ini seharusnya bangga sebagai bagian dari keberagaman masyarat lndonesia. Dialog harus selalu dikedepankan dengan mengusung toleransi dan rasa saling menghormati sebagai pijakan guna mencapai common ground yaitu kebaikan bersama.

×

Powered by WhatsApp Chat

× Hotline WA KJRI Hamburg